bisnis paling gratis
Tampilkan postingan dengan label Seno Gumira Ajidarma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seno Gumira Ajidarma. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (6)

Seno Gumira Ajidarma

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (6)
oleh: Seno Gumira Ajidarma

Wacana permainan kekuasaan dalam komik ini jelas sangat mungkin diacukan kepada wacana keindonesiaan dari kehidupan sehari-hari. Reformasi politik yang membuka pintu kepada persaingan bebas dalam perebutan dan pembagian kekuasaan, selain memperlihatkan berbagai gejal baru dalam pembelajara, juga masih menyisakan tipu daya dan kelicikan yang sudah lama dikenal, tempat kekerasan dan pembunuhan gelap tidak merupakan tabu. Semua ini teringatkan kembali melalui Intan Permata Rimba dan saya setidaknya melihat satu kata kunci yang terus menerus diajukan dalam komik ini, yakni perdamaian. Di sisi lain, mengacu kepada tokoh utamanya, Intan Sang Permata Rimba, komik ini mengajukan soal lain yang seperti dipesankan lebih penting daripada permainan kekuasaan lingkungan hidup.

Memperbesar Klik Gambar

Senin, 02 Mei 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (5)

Seno Gumira Ajidarma

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (5)
oleh: Seno Gumira Ajidarma

Menelusuri naratif Intan Permata Rimba segera tampak kembali bagi saya, bahwa kepiawaian seorang komikus di Indonesia memang bukan hanya menggambar, tetapi pada dasarnya adalah bercerita, artinya kemampuannya diuji juga dalam penyusunan alur dan kata-kata. membandingkan kerja komikus Indonesia dengan cara bekerja yang standar dalam industri komik, yang menggarap komik sebagai sebuah tim, jelas komikus Indonesia yang mengerjakan semuanya sendiri bagaikan manusia "super". Menyadari kenyataan seperti ini saya kira penting, terutama ketika berusaha menghargainya, secara moral maupun material. Komikus Indonesia membuat komik Indonesia ada. Apalagi yang bisa lebih berharga dari ini bukan?

Klik gambar untuk memperbesar

Jumat, 01 April 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (4)

Seno Gumira Ajidarma

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (4)
oleh: Seno Gumira Ajidarma

Betapapun, saat pasar Indonesia menyerap manga yang karikatural, itu juga merupakan produksi makna pembacanya dalam penerimaan manga- bahwa manga itu memenuhi tuntutan publiknya di Indonesia atas suatu kesenangan, makna, dan identitas sosial. Ketika pada gilirannya komikus Indonesia bercerita dengan gaya manga tersebut, lebih produktif dikatakan itu berarti manga telah menjadi kepunyaan Indonesia, sama saja seperti gambar realisme yang kelahirannya teracu kepada gagasan realisme dalam filsafat Barat (bahwa kebenaran tunggal mungkin saja dicapai, yang telah gugur dalam pruralitas pasca-modernisme) telah lebih dulu dijadikan milik Indonesia juga semenjak Raden Saleh.


Selasa, 01 Maret 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (3)

Panji Tengkorak, Intan Permata Rimba, Seno Gumira Ajidarma

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya di sini.

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (3)
Oleh : Seno Gumira Ajidarma

Pendekatan realisme dalam komik silat, memang membuat komikus tidak bisa main-main. Dengan realisme, sifat naratifnya pun tidak bisa cengegesan – kecuali sengaja membuat komik humor. Namun sudah jelas Hans Jaladara dalam Babad Panji Tengkorak tidak bermaksud melucu sama sekali.

Lain halnya ketika Panji Tengkorak dan Walet Merah digubah Hans kembali dengan pendekatan karikatural, yakni gambar komik bergaya manga. Dalam pengertian karikatural, segala sesuatunya mengalami distorsi, demi efek ringan dan lucu, sehingga nuasa keseriusan dalam naratifnya jelas berubah. Memang maksudnya tetap serius, tetapi serius dalam penggambaran karikatural akan lebih menjadi “seolah-olah serius” daripada “serius beneran” seperti dalam realisme. Inilah yang saya temukan dalam perbandingan, ketika Panji Tengkorak digubah ulang untuk kedua kalinya pada 1996, setelah yang pertama pada 1985, dan Walet Merah pada 2004.

Komik walet merah
image from Jadul 1972 Mp

Kamis, 03 Februari 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (2)

Hans Jaladara, Panji Tengkorak, Seno Gumira Ajidarma

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya di sini.

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (2)
Oleh : Seno Gumira Ajidarma

Bagi saya, Babad Panji Tengkorak hadir sebagai cermin kehidupan yang lebih dari memadai, karena representasinya dalam adegan yang dramatis dan estetis.

Harus saya akui, adegan pertempuran pada lengan patung raksasa yang menjulang di Pulau Awan Hijau itu merupakan adegan spektakuler, seru, tegang, sekaligus indah – yang jarang saya temukan dalam komik Indonesia mana pun juga.

Si Panji Tengkorak
image from FB

Jumat, 07 Januari 2011

Dari Babad Panji Tengkorak ke Intan Permata Rimba (1)

Panji tengkorak, Seno Gumira Ajidarma

Sebuah tulisan yang membahasa tentang Panji Tengkorak hingga Komik Intan Permata Rimba


Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Hans Jaladara mulai dikenal melalui seri Panji Tengkorak, yang mulai terbit tahun 1968. Itu berarti saya membacanya ketika berumur 10 tahun. Tak ada harapan akan terdapat objektivitas bukan? Namun bahkan setelah berumur lebih dari 50 tahun, apa yang kiranya dapat disebut Babad Panji Tengkorak tidaklah dapat saya atasi dan periksa dari luar dengan suatu jarak, melainkan saya selalu berada di dalam jagad tersebut.

komik panji tengkorak terbitan ELEX
Image from Hak Karya BLG
[i]

Adapun yang saya maksud dengan Babad Panji Tengkorak bukan cuma komik Panji Tengkorak, melainkan